Dear Warga +62, Yuk Setop Polemik Halal

Written by Rumano on June 21, 2020 in Efektivitas Vaksin Covid with no comments.

“Menurut hukum Yahudi, larangan menggunakan daging babi atau produknya, hanya dilarang jika itu menyangkut cara alami untuk memakannya,” kata Rabi David Stav, ketua Tzohar, sebuah organisasi kerabian di Israel. Gelatin yang berasal dari daging babi telah banyak digunakan sebagai stabiliator untuk memastikan berbagai jenis vaksin agar tetap aman dan efektif selama penyimpanan dan pengangkutan, demikian dilansir dari AP. Karena babi adalah Haram bagi Muslim, vaksin yang mengandung bagian tubuhnya tidak diperbolehkan,” kata Sekretaris Jenderal Akademi Raza, Saeed Noorie dilansir dari About Islam, Jumat (25/12).

Sinovac disuntikkan pada penerima dalam dua dosis dengan rentang waktu 14 sampai 29 hari. Perusahaan biofarmasi AstraZeneca menyatakan bahwa vaksin COVID-19 buatannya tidak mengandung produk turunan babi maupun produk hewani lainnya. Hal tersebut sudah dikonfirmasi Badan Otoritas Produk Obat dan Kesehatan Inggris yang menegaskan, semua tahapan produksi vaksin AstraZeneca tidak ada satupun yang memanfaatkan produk turunan babi. Tentu, lanjut dia, ada kekhawatiran di masyarakat namun dirinya meyakini pemerintah pusat tidak akan sembarangan dalam menentukan jenis vaksin hingga sumbernya, dengan melalui proses penelitian, pencermatan yang panjang. “Tetapi dengan meningkatnya keraguan atas vaksin dan penyebaran informasi yang salah di seluruh dunia, termasuk dalam komunitas religius, maka keterlibatan komunitas “mutlak diperlukan”, ungkap Rashid lebih lanjut.

Apakah vaksin covid halal

Video yang ditayangkan merupakan dokumentasi tahun 2018 usai disuntik vaksin difteri. Kebenaran lainnya pada saat penyuntikan vaksin difteri ada salah satu SOP yang tidak dilaksanakan,” ungkap Ustadz Nanung. Lebih lanjut Ustadz Nanung dalam pemaparannya menjelaskan, hingga saat ini Uni Eropa sudah memesan 1,4 miliar dosis vaksin Astra Zeneca, Curevac, dan Moderna.

Namun belakangan, pihak AstraZeneca membantah vaksin Corona mereka mengandung unsur babi. Disusul pernyataan vaksin yang sudah digunakan di sejumlah negara muslim seperti Arab Saudi hingga Kuwait. Di tengah masih berpolemiknya persoalan halal dan haram vaksin Covid-19 AstraZeneca, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria, menyebut mereka mengikuti kebijakan dari pemerintah pusat. Vaksin berasal dari vektor virus yang memicu jawaban imunitas perlindungan tubuh. Disebutkan pemberian satu dosis vaksin mencukupi untuk mengembangkan antibodi pencegah Covid-19.Juga penyimpanan vaksin relatif mudah pada kulkas yang lazim. Perusahaan farmasi Swiss, Novartis telah memproduksi vaksin meningitis tanpa kandungan babi, sementara perusahaan farmasi, AJ Pharma yang berbasis di Arab Saudi dan Malaysia saat ini sedang mengerjakan salah satu produk vaksinnya sendiri.

Sedangkan PT Bio Farma milik Indonesia, yang bekerja dengan Sinovac Biotech Ltd dari China, mengatakan kepada Salaam Gateway bahwa mereka sedang mengupayakan sertifikasi halal untuk vaksin Covid-19. Oleh sebab itu, ditekankan Amirsyah, aspek halal dan thoyyib merupakan satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan dalam penggunaan vaksin Covid-19. Ia pun meminta agar masyarakat sabar sampai proses di BPOM dan Komisi Fatwa MUI menetapkan soal penggunaan vaksin Covid-19 tersebut. Ditekankan Amisryah, bagi umat yang beragama Islam, label halal sangat diperlukan. Oleh karenanya, pemerintah meminta MUI untuk melakukan kajian terhadap kehalalan vaksin Covid-19.

Dan untuk KIPI dari vaksin apapun, terus dipantau oleh fasilitas kesehatan pelaksana vaksinasi. Dan diawasi secara terpusat oleh Badan Pemeriksa Obat dan Makanan , dan selanjutnya dianalisis lebih lanjut oleh Komnas KIPI. Di luar isu vaksin yang berkembang di kalangan masyarakat, Pemerintah terus memonitoring perkembangan isu vaksinasi menggunakan vaksin AstraZaneca. Hal ini perlu dilakukan, supaya tak menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat. Lucia mengatakan, efikasi vaksin dengan 2 dosis standar yang dihitung sejak 15 hari pemberian dosis kedua hingga pemantauan sekitar 2 bulan menunjukkan efikasi sebesar 62,1 persen.

“Dalam hukum Islam, proses ini mirip dengan istihala, di mana substansi asli berubah bentuk dan sifatnya dan tidak lagi dilarang.” katanya. Namun dalam pelaksanaannya juga perlu dilakukan sosialisasi dan informasi kepada masyarakat secara transparan agar tidak menimbulkan kontroversi dalam implementasinya. Artinya, produk ini sudah pasti dijamin keamanannya untuk digunakan kepada seluruh masyarakat Indonesia, termasuk masyarakat lanjut usia yang berusia 60 tahun ke atas. Unsur najis itu tidak dicampurkan, sehingga para kiai NU sepakat bahwa vaksin AstraZeneca suci. MUI Jawa Timur sependapat dengan PWNU Jawa Timur menyatakan vaksin AstraZeneca halalan dan thoyiban. BPOM juga memastikan, emergency use of authorization untuk vaksin Corona buatan Sinovac akan segera dikeluarkan setelah data-data yang dibutuhkan sudah lengkap.

Menggunakan fasilitas yang suci dan hanya digunakan untuk produk vaksin virus corona. Pada poin kedua, Fatwa MUI juga menyatakan vaksin virus corona produksi Sinovac Life Scicence Co Ltd China dan PT Biofarma boleh digunakan untuk umat Islam sepanjang terjamin keamananannya menurut ahli yang kredibel dan kompeten. Memperhatikan kondisi kedaruratan dan merespon kebutuhan percepatan penanganan COVID-19, maka Badan POM mengambil langkah kebijakan dengan menerapkan Emergency Use Authorization atau persetujuan penggunaan dalam kondisi darurat untuk Vaksin COVID-19. Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito menyampaikan bahwa penerapan EUA ini dilakukan oleh semua otoritas regulatori obat di seluruh dunia untuk mengatasi pandemi COVID-19 ini. Berbagai upaya Pemerintah telah dan akan terus dilakukan untuk percepatan penanganan pandemi COVID-19 ini. Salah satu upaya pemerintah yang saat ini akan segera digulirkan adalah program vaksinasi COVID-19.

WHO sebelumnya juga telah menjelaskan, bahwa tidak ada alasan untuk menghentikan penggunaan vaksin tersebut dengan mengikuti EUL yang ditetapkan WHO untuk vaksin Covid-19 AstraZeneca. Keputusan penangguhan tersebut juga tetap diambil walaupun Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mengimbau agar negara-negara tersebut tidak menghentikan program vaksinasi mereka. Meski begitu, Niam mengatakan, apabila nantinya sudah terdapat vaksin Corona yang dipastikan halal, maka vaksin yang memiliki bahan kandungan tidak halal tak diperkenankan untuk digunakan.

Comments are closed.